Mendidik Ala Nabi

Posted by dunia baruku Friday, 13 June 2014 0 komentar



“Peran kaum guru dalam perubahan, seperti keberadaan nabi-nabi tanpa senjata (Niccolo Machiavelli, Filosof Italia: 1456-1527)
Saat ini, masyarakat semakin memberhalakan harta dan jabatan, hidup dengan kepentingan-kepentingan individual tanpa peduli sesama. Kekerasan berlabel SARA sudah tak terhitung jumlahnya. Pendidikan menurut parafilosof adalah senjata paling ampuh untuk menepis serangan radikalisme, hedonisme dan eksklusivisme semacam itu.
Pendidikan sebagai sarana humanisasi diharapakan mampu melahirkan wakil-wakil (khalifah) Tuhan, guna mengatur alam semesta dan peradabannya. Tentu peradaban yang selalu memihak pada kebenaran dan keadilan, serta melawan kebatilan, kesenjangan, kebodohan serta keserakahan (korupsi),dan menghapus hukum rimba, seperti yang dikatakan Thomas Hobbes (1588- 1679), manusia adalah pemangsa manusia lainnya “homo homini lupus”,dan diganti dengan “homo homini socius”, manusia adalah adalah sahabat bagi sesama.
Kehadiran kaum guru, sejatinya seperti diutusnya para Nabi kemuka bumi. Sebagai penyelamat dari belenggu-belenggu yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan di atas. Lalu, apa saja tugas guru yang diamanatkan para Nabi dan Rasul untuk menyelamatkan(salvation) manusia dari kehancuran dan kebinasaan?
Peran StrategisGuru
Pertama, guru yang baik akan selalu menjadi pelita (rahmat) bagi alam semesta. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. 21:107).
Rahmat artinya kelembutan yang berpadu dengan rasa iba. Atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Jadi, guru harus mendidik murid-muridnya dengan kasih sayang. SebagaimanaTuhan mengutus paraNabi kepada seluruh manusia sebagai bentuk kasih sayang-Nya yang terbesar.
Pendidikan harus dilakukan dengan proses lemah-lembut dan kasih sayang. Ketika murid telah mencintai gurunya, maka proses komunikasi itu akan berjalan dengan baik dan harmonis. Apabila kenyamanan berkomunikasi sudah terjalin, maka transmisi pengetahuan dan nilai, serta internalisasi karakter pun mudah melekat pada jiwa anak.
Mendidik anak dengan cinta tidaklah mudah, diperlukan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi. Namun bukan berarti dengan kesulitan itu, lantas guru seenaknya saja. Diperlukan strategi khusus untuk melakukan hal itu. Misalnya, lihat kemampuan muriddan pelajari potensinya dengan baik, fleksible, dan tidak terlalu protektif kepada anak, sertapembelajaran yang dilakukan harus rileks dan tentu saja menyenangkan.
E.Handayani Tyas (2013) mengatakan bahwa, guru diharapkan dapat menjadi pendidik yang memenuhi tiga kunci, yakni dasar pendidikannya adalah kasih sayang, syarat teknisnya adalah saling percaya, dan syarat mutlaknya adalah kewibawaan. 
Pendidikan yang dilakukan dengan kasih sayang, akan melahirkan pengasih-pengasih selanjutnya, generasi yang peka dengan keadaan sosial, demokratis,inklusif, toleran, penuh persaudaraan dan perdamaian. Bukan generasi angkuh dan bersikap radikal.
Kedua, gurumemberikanpetunjukkejalan yang benar.Sesungguhnya Kami mengutuskamudenganmembawakebenaransebagaipembawaberitagembiradansebagaipemberiperingatan.Dantidakadasuatuumatpunmelainkantelahadapadanyaseorangpemberiperingatan. (QS.35:24)
Salah satu tugas guru adalah sebagai mursyid, yakni pembimbing ke arah kebaikan, penuntun ke jalan hidup yang benar. Syarat untuk menjadi guru yang mursyid, adalah harus memiliki wawasan luas tentang berbagai disiplin ilmu, memiliki kejernihan hati, sikap kesederhanaan dan ikhlas.
Mursyid dalam ilmu tasawuf, biasanya disematkan kepada guru sufi, yaitu orang yang ahli memberi petunjuk dalam bidang kebatinan. Para mursyid dianggap golongan pewaris para Nabi dalam bidang penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs).
Dengan peran mursyidnya, guru diharapkan mampu mencetak manusia yang memiliki hati, sifat, ucapan dan prilaku yang bersih dan suci. Bersih dari kedengkian, ketamakan harta, pemujaanjabatan dan korupsi.
Ketiga, guru memberiperingatankepadamurid-muriddanmasyarakatnya. Dan tidaklah Kami mengutuspararasulitumelainkanuntukmemberikabargembiradanmemberiperingatan. Barangsiapa yang berimandanmengadakanperbaikan, makatakadakekhawatiranterhadapmerekadantidak (pula) merekabersedihhati. (QS.6:48)
Guru adalah kaum intelektual yang membantu murid-muridnya dalam mencapai tujuan pendidikan dan kebenaran sejati. Namun perlu diingat, bahwa guru juga manusia biasa, bukan malaikat. Seperti Nabi yang hanya sebagai penyampai pesan dan pemberi peringatan pada kaumnya.
Proses belajar mengajar harus dilakukan tanpa unsur paksaan. Memaksakan kehendak anak didik dalam belajar tak akan memberi bekas sedikit pun bagi perkembangannya. Seperti dakwah para Nabi kepada umatnya, yang dilakukan dengan pendekatan persuasif, tanpa paksaan, apalagi kekerasan. Dakwah pada hakikatnya meyakinkan manusia agar selalu berjalan dalam koredor kebenaran. Dakwah bukan mencercah, mengejek, mengancam atau bahkan meneror.
Keempat, guru menjadi teladan yang baik. “Sesungguhnya aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad)
Salah satu faktor penting keberhasilan para Nabi dalam mendidik dan membimbing umatnya adalah, bahwamereka menjadikan dirinya sebagai living model(teladan). Sebelum para Nabi dan Rasul mengajak dan menyuruh umatnya, mereka adalah orang-orang pertama yang melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Karena itu, umatnya mudah mengamalkan dan meniru ajarannya.
Sesuatu yang akan membingungkan murid, apabila ucapan guru dan perilakunya berbeda. Murid-murid tidak tahu siapa yang harus dicontoh, dan apa arti dari keluhuran budi dan kemuliaan akhlak.(Syafi’i Antonio, 2009: 195)
Akhir kata, guru sebagai pewaris para Nabimemiliki tugas besar dalam pencerdasan, pencerahan, dan penyelamat bangsa dari keterpurukan moralmanusianya,yang gila harta,pemuja jabatan dan korupsi.

Sumber: Edi Sugianto, TRIBUN JABAR, Jumat 29 November 2013
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Mendidik Ala Nabi
Ditulis oleh dunia baruku
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://kublogspot.blogspot.com/2014/06/mendidik-ala-nabi.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Post a Comment

terimakasih telah singgah, berkomentar lah dengan baik

Belajar SEO dan Blog support Online Shop Aksesoris Wanita - Original design by Bamz | Copyright of PENERUS BLOG SAMPAI MATI.